Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Tampilan Terbaik Dengan Mozilla Firefox dan Google Chrome ------ Silahkan Share Artikel Dengan Tombol Social Media Yang Tersedia

Bahan kimia pada minyak zaitun.

colored-cooking-oils

Dalam Industri dikenal berbagai macam tehnologi artificial (sintetis), mungkin Anda  pernah mendengar pemanis sintetis buatan terkenal yang sering hampir dijumpai pada makanan dan minuman yang dikonsumsi sehari-hari seperti aspartam dan sakarin. Meskipun zat sintetis tersebut dibolehkan dalam dosis tertentu sebagai bahan tambahan makanan dan minuman, akan tetapi jika digunakan secara terus menerus dan/atau dalam jumlah besar, maka akan mengakibatkan masalah kesehatan yang sangat serius, seperti contohnya kerusakan pada organ tubuh ginjal dan hati.

Pada industri minyak zaitun dikenal juga pemakaian bahan kimia sintetis, yang biasanya digunakan untuk memperbaiki tampilan, aroma dan rasa minyak zaitun berkualitas rendah. Secara umum akan sulit sulit mengetahui minyak zaitun yang menggunakan bahan kimia, dan hanya melalui tes laboratorium akan diketahui penggunaan bahan kimia pada minyak zaitun. Penggunaan pewarna hijau sintetis berbahaya seperti copper cholorophyllin banyak ditemukan pada minyak zaitun kualitas rendah, khususnya pada minyak minyak zaitun rafinasi banyak ditemukan adanya kandungan zat berbahaya polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs) seperti benzopyrene, yang biasanya digunakan untuk memaksimalkan proses ekstraksi minyak zaitun sebelum melalui proses rafinasi. Untuk lebih detailnya silahkan Anda membaca pada bagian menu ARTIKEL mengenai kasus bahan kimia pada minyak zaitun yang sempat masuk dalam berita dunia.

Pada minyak sulingan digunakan zat kimia sebagai bahan pengawet karena bahan pengawet alami berupa antioksidan alami telah lenyap sama sekali akibat proses penyulingan dengan suhu panas yang tinggi. Khususnya minyak pomace sulingan peredarannya sangat diawasi oleh otoritas negara setempat dikarenakan adanya resiko terlampauinya ambang batas residu bahan kimia yang memiliki resiko tinggi terhadap kesehatan manusia akibat penggunaan bahan kimia pada proses produksinya .

Beberapa negara di eropa , seperti jerman,spanyol pernah melarang peredaran minyak pomace karena mencurigai telah telampauinya ambang batas residu bahan kimia. Sumber: http://www.curezone.org/forums/am.asp?i=1743730

Sebagai bahan pengawet minyak zaitun biasanya digunakan  Propyl Gallate,  Butylated hydroxyanisole (BHA) , butylated hydroxytoluene (BHT) sebagai antioksidan kimia sintetis , bahan pengawet tersebut hanya dapat dideteksi melalui uji laboratorium.

Untuk informasi mengenai bahaya efek samping zat kimia Butylated hydroxyanisole (BHA) , butylated hydroxytoluene (BHT) , silahkan mengunjungi http://fedup.com.au/factsheets/additive-and-natural-chemical-factsheets/320-bha-other-antioxidants

Pengawet Propyl Gallate sering digunakan untuk mencegah lemak dan minyak nabati menjadi rusak, seperti pada minyak zaitun, minyak sawit dan minyak kedelai , bahan pengawet ini di indikasikan dapat menyebabkan kanker.

Selain pada minyak nabati, bahan kimia ini banyak digunakan pada produk daging, kentang, sup ayam dasar dan permen karet, dan sering digunakan bersama-sama dengan BHA dan BHT.

Butylated hydroxyanisole (BHA) dan butylated hydroxytoluene (BHT) digunakan bersamaan dengan propil gallate – untuk menjaga lemak dan minyak dari oksidasi (menjadi tengik). Ketiga bahan  umumnya digunakan dalam sereal, permen karet, minyak nabati dan keripik kentang (dan juga di beberapa kemasan makanan untuk menjaga kesegaran), aditif ini telah diketahui dalam beberapa penelitian menyebabkan kanker pada tikus percobaan, akan tetapi pada banyak negara masih diperbolehkan penggunaannya dalam dosis rendah dan pengawasan ketat.

Pemilihan minyak zaitun curah dengan kemasan non standar (seperti: jerigen, dll) tanpa kejelasan asal usul  produsen juga  memiliki risiko tinggi , seperti adanya kemungkinan penggunaan minyak daur ulang (minyak telah expired) yang dijadikan sebagai bahan oplosan (campuran) demi untuk menekan harga agar lebih diminati, hal ini sangat disayangkan banyak terjadi pada industri pengemasan ulang minyak zaitun di Indonesia. Pada negara-negara eropa minyak zaitun yang telah melalui masa layak konsumsi (expired) di kumpulkan untuk diolah menjadi bio diesel.

Pada minyak zaitun sulingan pada umumnya menggunakan zat kimia sebgai bahan pengawet karena bahan pengawet alami berupa atioksidan alami telah lenyap sama sekali akibat proses penyulingan dengan suhu panas yang tinggi.

Sedangkan pada pengolahan bahan baku minyak pomace yaitu minyak crude pomace digunakan bahan kimia tertentu sebagai bahan pelarut/solven  (seperti salah satunya zat kimia bernama hexane) sebelum proses penyulingan dan BHA/BHT sebagai bahan kimia pengawet setelah proses penyulingan.

Pada penggunaan beberapa jenis bahan sintetis kimia memberikan efek  yang sama dengan efek  kandungan polyphenol pada minyak zaitun yang merupakan minyak zaitun extra virgin murni, seorang ahli minyak zaitun sekalipun akan mengalami kesulitan dalam meng-identitikasikannya.

Pada industri pabrik pengolahan minyak zaitun skala besar (raksasa) kebanyakan digunakan bahan pengawet dalam rangka menjaga kondisi stock minyak dalam penampungan tangki raksasa yang biasanya berjumlah banyak, hal ini untuk menghindari terjadinya perubahan pada rasa , aroma dan warna minyak zaitun.

Pada minyak zaitun jenis sulingan dengan label kemasan dagang “Olive Oil”, “Pure Olive Oil”, “Mild Olive Oil”,”Extra Mild Olive Oil”, “Light Olive Oil”, “Extra Light Olive Oil”, dan “Pomace” digunakan juga bahan kimia sintetis alpha-tocopherols yang terdiri atas d-alpha tocopherol (INS 307a) ,campuran konsentrat tocopherol (INS 307b) dan dl-alpha-tocopherol (INS 307c). Alpha-tocopherols digunakan untuk mengembalikan efek  tocopherol alami  yang mengandung Vit E dan antioksidan yang dapat memperpanjang umur minyak zaitun,  tocopherol alami menjadi hilang akibat  pemanasan tinggi saat proses rafinasi. Bahan sintetis ini memiliki efek negatif pada kesehatan hingga pemakaiannya di batasi maximal 200 mg/kg.(referensi CODEX STAN 33-1981)

Untuk memperkecil resiko kesehatan akibat bahan kimia  dalam penggunaan produk minyak zaitun maka disarankan menggunakan minyak zaitun yang berasal dari produsen langsung minyak zaitun yang  tersertifikasi dan terdaftar resmi di instansi kesehatan.

Pada produsen bersertifikasi ISO 9001 (management  kualitas) dan ISO 22000  (management keamanan pangan)  akan ada pengawasan dari lembaga independent terakreditasi   yang melakukan monitoring secara priodik,  sehingga diharapkan produsen menghasilkan produk yang dapat dipertanggungjawabkan .

Banyaknya kasus penggunaan bahan kimia dan pemalsuan jenis minyak zaitun melahirkan  permintaan yang besar oleh masyarakat untuk mendapatkan sumber makanan yang lebih sehat, aman dan dapat dijamin kualitasnya.

Penggunaan zaitun yang  berasal dari perkebunan zaitun yang sehat yaitu perkebunan organik tanpa penggunaan bahan kimia , baik sebagai pupuk maupun pestisida , yang kemudian diolah oleh produsen yang memiliki komitmen kuat untuk mempertahankan kulitas keorganikannya , yang dibuktikan dengan sertifikasi organik oleh lembaga independen terakreditas (seperti IFOAM, ICEA dll), menghasilkan tidak hanya minyak zaitun berkualitas tinggi , akan tetapi juga memberikan rasa aman akan adanya jaminan keaslian kualitas dari produk yang akan dikonsumsi, sehingga harapan akan didapatkannya berbagai manfaat minyak zaitun untuk kesehatan tubuh dapat benar-benar dirasakan.

Minyak zaitun extra virgin organik BALSARI, dihasilkan dari perusahaan yang telah memiliki sertifikasi ISO 9001, ISO 22000 dan  sertifikasi organik yang telah diakui oleh lembagai akreditasi organik di Indonesia melalui sertifikasi JIPO (Jaminan Integritas Produk Organik Impor) no: 001/09/2014.

 

 

Hal sangat penting  yang  harus diingat dan diperhatikan saat Anda mengkonsumsi minyak zaitun ekstra virgin sebagai makanan sehat dan tujuan pengobatan adalah sebagai berikut:


-Jenis terbaik dari minyak zaitun adalah minyak zaitun ekstra virgin, yang diproduksi sebagai ekstraksi pertama dari juice buah zaitun segar (EKSTRA VIRGIN) dan tanpa proses yang mengakibatkan peningkatan suhu (FIRST COLD PRESSED).


-Pastikan bahwa minyak zaitun yang dikonsumsi merupakan minyak zaitun asli/murni dari jenis ekstra virgin yang diproduksi tanpa campuran apapun seperti campuran minyak lain, pewarna, perasa, pengawet dsb. Tidak ada jaminan keaslian sekalipun produk yang Anda beli adalah sangat mahal, produk import, berlabel kemasan tertulis  ekstra virgin dan penjelasan brosur yang bombastis. Minyak zaitun ekstra virgin yang telah dicampur dengan bahan tambahan menimbulkan resiko kesehatan, bahkan adanya indikasi penggunaan zat kimia seperti pengawet, pewarna, perasa dsb dapat beresiko menimbulkan kanker. Baca bahan kimia pada minyak zaitun


-Cara sederhana mendapatkan minyak zaitun ekstra virgin murni adalah dengan memilih minyak zaitun dengan sertifikasi organik karena minyak zaitun organik hanya ada pada jenis extra virgin, jadi dapat disimpulkan bahwa, "minyak zaitun organik pasti minyak zaitun extra virgin asli/murni", akan tetapi minyak zaitun extra virgin belum tentu organik , dengan kata lain adanya sertifikasi minyak zaitun organik dari lembaga independen terakreditasi memberikan pengakuan kuat bahwa minyak zaitun organik bersangkutan masuk dalam kategori jenis minyak zaitun extra virgin , karena secara tidak langsung ikut terserfikasi sebagai jenis minyak zaitun extra virgin, hal ini sangat penting ditengah maraknya produk minyak zaitun extra virgin palsu dan berkualitas rendah (campuran). -Minyak zaitun organik merupakan minyak zaitun dengan kualitas tinggi yang harus selalu didukung dengan sertifikasi lembaga independent terakreditasi sebagai pengakuannya. Produk organik yang diproduksi tanpa zat pengawet sangat membutuhkan tambahan pelindung baik berbentuk tabung pelindung ataupun botol dengan warna gelap untuk mengurangi resiko pengaruh cahaya dan fluktuasi suhu. Oleh karena itu biasanya produsen minyak zaitun organik selalu memberikan tambahan perlindungan untuk menjaga kualitas produknya ,namun harus juga diperhatikan adanya beberapa kasus penggunaan botol berpewarna gelap justru digunakan untuk menyembunyikan kualitas rendah dari produk minyak zaitun.


Pada ekstraksi minyak zaitun ekstra virgin dengan cara tekan konvensional (tradisional) akan selalu didapatkan endapan partikel sangat halus dari serat buah zaitun yang kadang terlihat didasar kemasan botol transparan seperti kabut tipis yang dapat segera hilang jika botol kemasan beberapa kali dibolak-balikan/digoncangkan. Adanya endapan/sediment di dasar botol pada produk minyak zaitun ekstra virgin dapat juga diartikan sebagai ciri minyak zaitun ekstra virgin segar yang baru saja melalui proses ekstraksi ,biasanya berumur kurang dari 1 bulan dihitung dari tanggal proses ekstraksinya, lalu kemudian segera dikemas kedalam botol. Pada industri pengolahan minyak zaitun skala besar yang ditandai dengan kepemilikan banyak merk dagang atas produk minyak zaitun (daftar merk produk dapat dilihat pada website produsen bersangkutan) ,biasanya dilakukan penyimpanan minyak zaitun dalam jumlah besar sebagai pengamanan stock dalam jangka waktu tertentu. Pada hasil ekstraksi minyak zaitun ektra virgin yang telah disimpan lebih lama ( diatas 3 bulan) maka endapan sedimen partikel halus dari serat buah zaitun akan terkumpul mengendap didasar tangki penyimpanan bukan di botol kemasan.


Minyak zaitun organik bersertifikat organik yang dapat diverifikasi dapat dipastikan akan selalu jenis minyak zaitun ekstra virgin asli/murni tanpa bahan tambahan apapun seperti campuran minyak zaitun kualitas rendah/minyak nabati lain, tambahan bahan pengawet, pewarna, perasa dsb.


-Sebaiknya hanya membeli minyak zaitun dengan ukuran yang mampu dikonsumsi dalam 30 hari setelah kemasan dibuka untuk menghindari penurunan kualitas nutrisi akibat proses buka tutup kemasan (oksidasi) selama masa pengkonsumsian.


-Hindari produk repacking tanpa asal bahan baku yang jelas dapat dibuktikan, standarisasi kualitas yang jelas, maupun tanpa izin dari pihak berwenang seperti Badan Pengawas Obat dan Makanan/BPOM.


-Hindari kemasan dengan bahan baku beresiko kontaminasi seperti kemasan plastik, kaleng dst.


-Hindari paparan panas dan cahaya langsung pada minyak zaitun agar nutrisinya tidak rusak. Simpanlah minyak zaitun dalam kondisi suhu ruangan dan gelap gulita.