Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Tampilan Terbaik Dengan Mozilla Firefox dan Google Chrome ------ Silahkan Share Artikel Dengan Tombol Social Media Yang Tersedia

Jenis Minyak Zaitun

Pendefinisian jenis minyak zaitun menitikberatkan pada proses produksi dan kadar asam yang dikandung pada produk akhirnya.

Kedua hal tersebut merupakan titik kritis yang telah disepakati secara internasional oleh produsen minyak zaitun internasional. Akan tetapi pada prakteknya sering terjadi penyimpangan , khususnya pada minyak zaitun extra virgin yang memiliki harga tinggi dipasaran. Pada jenis minyak zaitun extra virgin sering terjadi fraud dengan mencampurkan  minyak zaitun kualitas lebih rendah seperti minyak zaitun virgin atau memalsukan jenis minyak zaitun virgin menjadi extra virgin pada labelnya.

Untuk memahami jenis-jenis minyak zaitun , kita harus mengerti  proses produksi minyak zaitun yang dapat dibedakan menjadi:

a-Proses produksi pemerasan dingin ( Cold Pressed/ Mechanical/Unrefinned)

Proses ini kadang disebut juga proses mekanik, pada produksinya buah zaitun  hanya melalui proses pencucian, pengendapan,dan extrasi  dengan sentrifugasi  ataupun  pengepresan ,  kemudian terakhir melalui filterasi, semua proses dengan tanpa menggunakan proses peningkatan panas dalam bentuk apapun, oleh karena itu proses ini dikenal sebagai proses extraksi dingin “cold pressed” . Hasilnya berupa lapisan cairan yang terdiri dari bagian atas yang disebut sebagai EXTRA VIRGIN OLIVE OIL, FIRST COLD PRESSED, lapisan kedua berupa campuran minyak dan air , terakhir lapisan ketiga berupa minyak air serta serat halus zaitun.

 

b-Proses produksi penyulingan (Refinned )

Hasil produksi pemerasan dingin berupa lapisan minyak air dan campuran minyak air ampas , difilter hingga yang terkumpul hanya campuran minyak dan air, sedangkan  ampas serat kembali diolah untuk dilakukan pemerasan kembali, terkadang untuk menambah kuantitas dimasukan ekstraksi dari buah zaitun berkualitas rendah.  Selanjutnya cairan air minyak dimasukkan kedalam  proses penyulingan dengan suhu panas tinggi , hingga air berubah menjadi uap dan yang tertinggal adalah hanya minyak saja. Minyak zaitun suling sering digunakan sebagai minyak goreng rendah kalori. Pada minyak suling akan dilakukan proses bleaching dengan bahan kimia tertentu pada proses akhir, sehingga dihasilkan minyak yang lebih jernih.

c-Proses Produksi secara kimia (Chemical )

Proses ini dilalui oleh limbah serat kasar hasil penyaringan, secara berulang  kali dengan memberikan zat kimia tertentu (contohnya: penggunaan zat kimia polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs)  benzopyrene dan hexane dengan tujuan agar dapat mengeluarkan sisa-sisa minyak zaitun yang masih mungkin terkandung pada limbah. Pada pengolahan minyak secara kimia dimasukkan buah zaitun yang tidak lolos (rejected) seleksi kualitas. Minyak zaitun yang melalui proses kimia biasanya di jadikan sebagai bahan baku minyak zaitun sulingan (refined) seperti: Minyak Crude Pomace.

Pada minyak zaitun sulingan pada umumnya menggunakan zat kimia sebagai bahan pengawet karena bahan pengawet alami berupa atioksidan alami telah lenyap sama sekali akibat proses penyulingan dengan suhu panas yang tinggi.

Sedangkan pada pengolahan bahan baku minyak pomace yaitu minyak crude pomace digunakan bahan kimia tertentu sebagai bahan pelarut (solven) sebelum proses penyulingan dan sebagai bahan kimia pengawet setelah proses penyulingan.

Banyaknya standarisi minyak zaitun , tentu saja sangat menyulitkan konsumen , khususnya Indonesia yang secara alami tidak memiliki ikatan budaya yang berkaitannya dengan zaitun. Ditinjau dari  jenis yang dihasilkan maka terdapat 3 standar yang dipakai secara internasional.

Untuk memudahkan Anda dapat mengamati bagan ringkasan penjenisan minyak zaitun pada link ini (lihat)

Secara internasional ada 3 jenis standard mutu minyak zaitun yang antara lainnya adalah

Standar mutu Amerika Serikat melalui North American Olive Oil Association (NAOOA)yang mengikuti definisi American Oil Chemists Society (AOCS)

-Standar mutu Australia melalui Australian Olive Association (AOS)

-Standar Internasional/eropa melalui The International Olive Oil Council (IOOC)/International Olive Council (IOC)

Saat ini IOC/IOOC sebagai lembaga induk pengklasifikasian minyak zaitun tidak mengeluarkan sertifikasi resmi pengakuan akan jenis minyak zaitun ataupun kualitasnya, sertifikasi khusus jenis extra virgin saat ini hanya ada di USA melalui California Olive Oil Council (COOC) dan North American Olive Oil Association (NAOOA), New Zealand melalui Olives New Zealand (ONZ), dan Australia melalui Australian Olive Association (NOA).

Perlu diketahui baik USA, New Zealand dan Australia bukan merupakan negara asal (original) pohon zaitun, perkebunan zaitun di 3 negara tersebut berasal dari bibit yang dibawa dari daerah mediterania yang telah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga dapat tumbuh dan bertahan dalam kondisi lingkungan berbeda dari daerah asalnya.

Pada bahasan  mengenai jenis minyak zaitun kami hanya akan membahas sesuai standar The International Olive Oil Council (IOOC) sesuai resolusi 1/94-V/06 yang dikeluarkan pada 24 November  2006 yang melingkupi standar minyak zaitun dan minyak pomace yang diperdagangkan secara umum dan lazim digunakan sebagai acuan standarisasi lainnya. Ringkasan dari klasifikasi dapat Anda baca langsung di website IOOC disini.

Patut diingat minyak POMACE disebut secara terpisah dari minyak zaitun karena dianggap telah jauh keluar dari karateristik untuk mendefinisikan sebutan minyak zaitun, dengan kata lain minyak POMACE bukan lah minyak zaitun akan tetapi lebih disebut sebagai minyak limbah.

Salah satu titik penting dalam pengklasifikasian minyak zaitun adalah kadar asam (acidity). Kadar asam minyak zaitun selalu berubah (berfluktuasi) sesuai kondisi dan perlakuan panen, adalah mustahil menentukan kadar asam (acidity) yang stabil karena pada setiap pengecekan sample minyak zaitun dari kebun dan masa panen yang sama akan selalu didapatkan perbedaan hasil kadar asam (acidity).

Untuk itu diberlakukan batas toleransi khususnya pada minyak zaitun extra virgin diberlakukan batasan hingga maximal 0,8%, yang biasanya ditulis pada kemasan “max 0,8% acidity” yang artinya telah didapatkan hasil fluktuatif pada pengetesan kadar asam pada sample produksi. Penulisan lazim lainnya adalah dengan cara menuliskan “0,5% to 0,7% acidity” atau “0,6% – 0,8% acidity” atau “max acidity : 0,4%” atau “acidity < 0,5%”.

Penetapan kadar asam secara tetap dengan menuliskan misalnya “0,7% acidity” adalah hal yang sangat sulit dan menyesatkan berdasarkan alasan diatas.

Jenis-jenis minyak zaitun sesuai  dengan aturan International Olive Oil Council (IOC) untuk minyak  zaitun dan minyak Pomace.

Minyak Zaitun Extra Virgin (Extra Virgin Olive Oil/EVOO)

 

Diproses hanya menggunakan proses produksi pemerasan dingin ( Cold Pressed/ Unrefinned) dan memiliki kadar asam (oleic acid ) fluktuatif antara 0,3%  sampai dengan 0,8% , oleh karena biasanya ditulis dikemasan dengan hanya mencantumkan “max acidity 0,8%”.  Standar IOC mempersyaratkan bahwa minyak zaitun extra virgin wajib memiliki kadar asam maximal 0,8%. Adanya anggapan dengan mendefinisikan minyak jenis ini berkadar asam 0,3% , 0,5% dan sebagainya, merupakan anggapan tidak berdasar yang tidak mengacu pada system standarisasi manapun yang digunakan oleh para produsen minyak zaitun dunia.

Dipasaran sering minyak zaitun murni ini disebut juga dengan EXTRA VIRGIN OLIVE OIL, FIRST COLD PRESSED , yang artinya minyak ini berasal dari pemerasan pertama dari buah zaitun dan dalam prosesnya tidak menggunakan proses pemanasan dalam bentuk apapun.

Jenis minyak zaitun Extra Virgin  adalah jenis kualitas terbaik dari minyak zaitun, diproses murni melalui proses produksi hanya dengan pemerasan tanpa panas dan bahan kimia apapun , hanya berbahan baku buah zaitun terbaik( tanpa cacat/rejected) dan kaya akan kandungan gizi tinggi yang sangat baik  untuk kesehatan.Akan tetapi sangat penting dalam pemilihan produknya, karena harganya yang tinggi di pasaran membuat banyak pihak melakukan pemalsuan, daur ulang minyak expired dsb (baca).

Pada ekstraksi minyak zaitun ekstra virgin dengan cara tekan konvensional (tradisional) akan selalu didapatkan endapan partikel  halus dari serat buah zaitun yang kadang terlihat didasar kemasan botol transparan seperti kabut tipis yang dapat segera hilang jika botol kemasan  beberapa kali digoncangkan. Adanya endapan/sediment di dasar botol pada produk minyak zaitun ekstra virgin dapat juga diartikan sebagai ciri minyak zaitun ekstra virgin segar yang baru saja di ekstraksi ,biasanya berumur kurang dari 1 bulan dihitung dari tanggal  proses ekstraksinya, lalu kemudian segera dikemas kedalam botol. Pada hasil ekstraksi minyak zaitun ektra virgin yang telah disimpan lebih lama ( diatas 3 bulan) maka endapan sedimen partikel halus dari serat buah zaitun akan terkumpul mengendap didasar tangki penyimpanan bukan di botol kemasan.
baca Proses produksi

Kandungannya yang sangat bernilai sangatlah sensitive terhadap temparatur tinggi, oleh karena itu dalam pengolahan dihindari paparan panas dalam bentuk apapun.

Pada hasil pemerasan pertama buah zaitun, setelah diendapkan pada periode tertentu, akan dihasilkan 3 lapisan utama yaitu lapisan pertama disebut minyak zaitun extra virgin murni, lapisan kedua berupa campuran (mixtur) antara air dan minyak zaitun yang akan segera melalui proses rafinasi dan terakhir lapisan campuran (mixtur) air, minyak serta ampas halus yang akan kembali melalui proses produksi minyak zaitun jenis lainnya.

Buah zaitun yang telah diperas akan diolah kembali dengan melalui system pengolahan tertentu hingga kemudian akan kembali di peras beberapa kali hingga di yakinkan kandungan minyaknya tidak mungkin lagi dapat diextrasi secara alami.

Minyak zaitun selain jenis extra virgin, khususnya yang melalui proses rafinasi (penyulingan) memiliki kecenderungan memiliki konsistensi rasa, aroma dan warna yang lebih tahan lama karena penggunaan pengawet, bahkan setelah disimpan bertahun-tahun , akan tetapi memiliki nutrisi yang sangat rendah.

Banyak kesalahpahaman penggunaan minyak zaitun non extra virgin, harus dan sangat perlu diketahui bahwa tujuan pembuatan  minyak zaitun non extra virgin adalah sebagai minyak goreng rendah kalori dan tidak diperuntukan sebagai minyak yang dikonsumsi langsung, terlebih mengingat adanya penggunaan beberapa zat beresiko bagi kesehatan dalam proses produksinya.

Saat ini banyak produk minyak zaitun extra virgin ikut ditambahkan pengawet dengan tujuan memperpanjang umur minyak zaitun dalam mempertahankan kharakteristik rasa, warna dan aromanya.

Minyak zaitun extra virgin murni (organik) memiliki keterbatasan dalam mempertahankan rasa, aroma dan warnanya, karena hanya mengandalkan zat anti oksidan yang secara alami terkandung didalamnya seperti pholifenol dan chlorophyl. Namun minyak zaitun extra virgin murni kaya akan nutrisi luar biasa yang sangat berguna untuk kesehatan dan pengobatan. Nutrisi luar biasa ini akan mudah rusak akibat dari pengaruh cara penyimpanan dan lingkungan sekitar, antara lain oleh pengaruh cahaya, perubahan suhu dan oksidasi. Penting untuk mempertimbangkan bahwa sebaiknya hanya membeli zaitun dengan ukuran yang mampu dikonsumsi dalam 30 hari setelah kemasan dibuka untuk menghindari penurunan kualitas nutrisi akibat proses buku tutup kemasan selama masa pengkonsumsian.

Peningkatan permintaan pada dasawarsa terakhir diiringi dengan berkurangnya pasokan akibat berbagai macam faktor, berujung pada kenaikan harga minyak jenis ekstra virgin setiap tahunnya. Harganya yang tinggi merupakan daya tarik bagi banyak oknum untuk melakukan fraud dalam proses produksinya , mulai dari pemalsuan label jenis, pencampuran dan penambhan zat additif , dengan tujuan mengeruk keuntungan berlipat ganda. Sangat sulit untuk memastikan bahwa minyak zaitun yang kita gunakan/beli adalah minyak zaitun ekstra virgin murni/asli karena tingkat fraud sudah dilakukan bahkan pada tingkat produsen-produsen kelas dunia, yang sangat ahli melakukan rekayasa aroma, warna dan citarasa pada produknya yang diklaim sebagi minyak zaitun ekstra virgin. Satu-satunya cara saat ini untuk mendapatkan minyak zaitun ekstra virgin murni adalah dengan hanya menggunakan minyak zaitun ekstra virgin organik tersertifikasi oleh lembaga independen yang terakreditasi internasional, karena klaim produsen sepihak atas produknya dengan memberi tulisan “organik” pada label kemasan produk sekalipun tidak menjamin keaslian produk ini. Sertifikasi organik oleh lembaga independent terkareditasi adalah satu-satunya jaminan pengawasan bahwa produsen bersangkutan benar-benar telah mengikuti persyaratan standar keorganikan yang telah disepakati secara internasional. Tidak kalah pentingnya adalah verifikasi sertifikasi organik dari produk bersangkutan harus dapat dilakukan oleh pihak manapun dengan mudah sehingga konsumen tidak hanya terhindar dari produk organik palsu , akan tetapi juga terhindar dari produk organik bersertifikat palsu. baca sertifikasi produk BALSARI

Minyak Zaitun Virgin (Virgin Olive Oil)

Minyak jenis Virgin , sering disebut juga minyak persan kedua (second pressed olive oil) melalui proses produksi yang sama dengan proses yang dilalui minyak zaitun jenis Extra Virgin. Minyak zairub virgin sangat jarang diperjualbelikan untuk konsumen langsung, biasanya dijadikan bahan campuran untuk minyak zaitun jenis lainnya. Bubur buah zaitun yang telah diperas dan menghasilkan perasan pertama jenis extra virgin di peras dengan proses ekstraksi yang lebih kuat dari proses perasan pertama, hasil perasannya memiliki kadar asam (oleic acid ) lebih dari 0,8% dan tidak melebihi 2%. Ada beberapa tipe jenis minyak zaitun virgin, antara lainnya:

  • -Minyak Zaitun Virgin biasa (Ordinary Virgin olive Oil)

Serat buah zaitun hasil perasan kedua kembali diproses , pada proses grinding (pelumatan) kembali,  ditambahkan/dicampur buah zaitun berkualitas rendah (kurang baik), yang kemudian kembali di press (Cold Pressed)  , hasil extrasinya diendapkan kembali dan difilter  (Cold Pressed) hasilnya memiliki kadar asam tidak melebihi 3,3%. Minyak ini biasanya diproduksi dengan permintaan khusus oleh pemesan sebagai bahan baku untuk produk kosmetik dan turunannya dan tidak diedarkan ke konsumen retail secara umum, pada negara tertentu peredarannya sangat diawasi secara ketat, karena sering disalah gunakan dengan menjualnya dengan label kemasan hanya tertulis “minyak zaitun” seolah-olah sebagai minyak zaitun extra virgin. Alasan penggunaannya pada industri lebih banyak berorientasi kepada alasan harga yang lebih ekonomis dibandingkan penggunaan minyak zaitun extra virgin.

  • -Minyak Zaitun Virgin tidak layak untuk konsumsi oleh manusia ( Non consumable virgin olive oil/Lampante Virgin Olive Oil)

Serat buah zaitun hasil perasan kedua ditambahkan/dicampur buah zaitun berkualitas rendah (kurang baik), yang kemudian di press (Cold Pressed) kembali  , hasil extrasinya diendapkan kembali, sering kemudian ditambahkan minyak campuran dari jenis minyak nabati lain,  hasilnya memiliki kadar asam (oleic acid ) melebihi 3,3%.  Jenis minyak zaitun virgin ini TIDAK LAYAK KONSUMSI karena telah mengalami perlakuan kimiawi saat proses penganginan-anginan untuk memicu fermentasi, biasanya diproduksi dengan permintaan khusus industri, sering digunakan untuk tambahan bahan baku pengolahan minyak zaitun yang di suling ataupun pada industri tertentu seperti industri kosmetik dsb.

Patut diperhatikan saat pembelian minyak zaitun jenis “virgin” ini akan kadar asamnya karena ketiganya memiliki label jenis nama yang sama yaitu minyak zaitun virgin (Virgin Olive Oil).

 

-Minyak zaitun sulingan  (Refined Olive Oil).

Memiliki nama yang sangat banyak seperti :   “PURE OLIVE OIL”,”EXTRA LITE/LITE OLIVE OIL” ,  “EXTRA MILD/MILD OLIVE OIL” dsb terkadang produsen melabelinya dengan hanya menuliskan “OLIVE OIL”.  Bahan baku minyak zaitun sulingan berasal dari jenis minyak zaitun virgin dan hasil ekstraksi kembali ampas zaitun limbah proses ekstraksi yang kembali diproses dengan menambahkan seluruh buah zaitun kualitas kurang baik terlebih dahulu dengan melibatkan bahan pelarut (solven) kimia tertentu. Pada minyak zaitun sulingan pada umumnya menggunakan zat kimia sebagai bahan pengawet karena bahan pengawet alami berupa atioksidan alami telah lenyap sama sekali akibat proses penyulingan dengan suhu panas yang tinggi.

Pada seluruh jenis minyak sulingan akan dilakukan tahapan proses bleaching dengan bahan kimia tertentu pada proses akhir, sehingga dihasilkan minyak yang lebih jernih.

Dalam transaksi internasional minyak zaitun , walau sangat dihindari dalam beberapa kesempatan terkadang masih digunakan penyebutan jenis di label hanya degan sebutan “OLIVE OIL” dengan maksud menyebutkan jenis minyak zaitun minyak zaitun sulingan. (baca http://healthimpactnews.com/2014/extra-virgin-olive-oil-fraud-a-guide-to-purchasing-olive-oil/).

Penggunaan label produk minyak jenis ini dengan penulisan hanya dengan  “OLIVE OIL” sangat dihindari oleh kebanyakan produsen minyak zaitun karena  hal ini justru membuat kerancuan dalam pengklasifikasian jenis minyak zaitun, penggunaan label dagang jenis “OLIVE OIL”  kebanyakan justru digunakan oleh produk dengan kualitas jenis yang tidak jelas dan diproduksi memang oleh produsen yang tidak ber-itikat baik.

Penggunaan label jenis “OLIVE OIL” akan mempersulit konsumen untuk mengetahui jenis minyak sulingan sebenarnya karena faktanya minyak zaitun sulingan terdapat beberapa kualitas. Kecendrungan tidak menjelaskan jenis minyak sulingan pada label kemasan ,dengan hanya mencantumkan “OLIVE OIL” , umumnya untuk tujuan mengelabui konsumen dengan penjualan jenis minyak zaitun campuran berbagai minyak jenis minyak sulingan atau minyak zaitun yang berkualias lebih rendah, karena secara harfiah terjemahan “OLIVE OIL” adalah “minyak zaitun” yang dapat digunakan sebagai definisi luas mencakup keseluruhan jenis minyak zaitun, khususnya minyak zaitun hasil penyulingan mulai dari yang terbaik hingga jenis yang terendah.

Pada minyak hasil sulingan ,  kadar asam sangat rendah yaitu sekitar 0,2% hingga 1%. Minyak jenis ini biasanya digunakan untuk proses memasak hidangan dengan suhu tinggi , seperti menggoreng/menumis, hal ini dikarenakan setelah proses penyulingan dengan suhu tinggi, titik asap (smoke point) ikut meningkat. Patut diingat, kandungan minyak zaitun jenis ini hanya unggul untuk memasak khususnya menggoreng,  karena rendah lemak dan titik asap yang tinggi (dapat digunakan untuk menggoreng dengan suhu sangat tinggi), sedangkan kandungan berguna lainnya seperti zat anti kanker, vitamin, asam omega dsb dapat dipastikan sudah sangat rendah/hilang akibat proses pemanasan tinggi secara berulang kali.

Untuk memperbaiki kualitas dan tampilannya beberapa  produk  minyak jenis ini dicampur dengan minyak zaitun extra virgin/virgin untuk memperbaiki citarasa,aromanya, atau dicampur dengan minyak nabati lainnya untuk mencapai titik asap optimal , ataupun dicampur dengan pewarna hijau untuk memperbaiki warna tampilannya. Pada dasarnya minyak zaitun sulingan merupakan minyak goreng rendah  lemak umumnya seperti :minyak goreng dari bahan biji bunga matahari, minyak goreng dari bahan kedelai) .

Minyak zaitun sulingan telah kehilangan sebagian besar nutrisinya karena dalam proses produksinya menggunakan panas yang sangat tinggi.

Berikut adalah penjelasan singkat type dari minyak zaitun sulingan (refined olive oil).

A.Minyak Zaitun Sulingan Murni (Olive Oil/Pure Refined Olive Oil/)

pureoilklik untuk memperbesar

Secara standar IOOC minyak jenis ini di sebut dengan label dagang    “PURE OLIVE OIL”  atau diterjemahkan  “OLIVE OIL MURNI” merupakan minyak zaitun sulingan (refined olive oil)  tanpa dicampur dengan minyak nabati lainnya sehingga didefinisikan sebagai “pure” /”murni” , akan tetapi terkadang pihak produsen  dengan menambahkan minyak zaitun berkualitas lebih tinggi ,pewarna ataupun minyaknabati lainnya. Di pasar sering ditemukan dengan hanya penulisan “OLIVE OIL” tanpa menyabutkan jenisnya secara lebih spesifik. Secara singkat minyak ini ini merupakan minyak goreng rafinasi yang dihasilkan dari rafinasi perasan zaitun.

Minyak jenis ini memiliki kadar asam (asam 0leik) tidak melebihi 1%. Kandungan gizinya tentu saja sangat rendah bahkan sebagian besar telah hilang  akibat penggunaan panas yang sangat tinggi pada proses penyulingan. Minyak jenis ini biasanya diperuntukan untuk tujuan yang lebih spesifik/khusus.

B.Minyak zaitun Sulingan Light/Mild/Extra Light/extra Mild dan Pomace

lightExtra Light/Light Olive Oil

 

mild

Mild Olive Oil

Minyak zaitun Sulingan Light/Mild/Extra Light/extra Mild merupakan minyak zaitun sulingan yang dihasilkan dari proses pengolahan extrasi buah zaitun yang telah mengalami proses pengolahan kimia. Berbeda dengan minyak type “PURE” yang sering dilakukan perbaikan kualitas dengan di campur jenis minyak EXTRA VIRGIN ataupun VIRGIN, maka minyak zaitun sulingan Light/Mild/Extra Light/extra Mild terkadang diberi campuran minyak nabati lainnya untuk memperbaiki kualitasnya dan meningkatkan titik asapnya. Minyak jenis ini memiliki kadar asam  terendah 0,2%, untuk memperjenih minyaknya terkadang digunangan semacam zat kimia sebagai bleaching (pemutih), khususnya pada minyak zaitun rafinasi light/extra light. Penggunaan minyak zaitun rafinasi Light/Mild/Extra Light/extra Mild biasanya untuk memperlama umur hidangan dan menghindari aroma minyak nabati pada hidangan karena sifat minyak jenis ini yang telah banyak berubah dan nyaris tidak memiliki aroma minyak, akan tetapi patut diperhatikan bahwa minyak ini telah banyak mengalami proses kimia.

Minyak zaitun sulingan selanjutnya adalah jenis minyak zaitun berkualitas terendah dan tidak dianjurkan untuk dikonsumsi secara langsung yang berasal dari bahan baku limbah zaitun (pomace) proses produksi jenis lainnya yang kemudian diolah sedemikian rupa dengan bahan kimia untuk memaksa keluar kandungan minyak zaitun yang masih terkandung didalamnya. Walaupun melalui proses rafinasi dengan panas yang sangat tinggi , akan tetapi zat kimia yang digunakan pada proses pengolahan sebelumnya dipastikan tidak dapat menguap keseluruhan. Jenis minyak ini antara lainnya adalah sebagai berikut:

  • -Minyak Crude Pomace

Sesuai makna kata “pomace” artinya sisa pengolahan dalam hal ini limbah extraksi buah zaitun dari proses sebelumnya yaitu yang telah diperas berulang kali, dioleh kembali dengan mencampurkan buah zaitun berkualitas rendah dan bagian buah zaitun lainnya. Kemudian di lumatkan  melalui perlakuan khusus secara fisik maupun secara  kimiawi dengan memberikan zat kimia pelarut (solven), hingga dihasilkan hasil extraksi. Hasil ekstraksi dari jenis ini disebut dengan nama Crude Pomace (Minyak mentah Pomace). Minyak cruse pomace diproses dengan zat kimia yang disesuaikan dengan tujuan penggunaanya, jika ditujukan untuk tujuan pembuatan campuran minyak nabati konsumsi (refined pomace oil) maka hanya zat kimia tertentu/diizinkan  yang dipergunakan dalam proses pengolahannya.

 

Limbah zaitun sebagai bahan baku minyak pomacepomace

 

Beberapa negara di eropa , seperti jerman,spanyol pernah melarang peredaran minyak pomace karena mencurigai telah telampauinya ambang batas residu bahan kimia.

Sumber: http://www.curezone.org/forums/am.asp?i=1743730

Salah satu zat berbahaya yang sering digunakan dalam produki minyak crude pomace non konsumsi adalah zat kimia polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs) yang berbahaya bagi manusia.  Polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs) contohnya hexane, memiliki kemampuan mengeluarkan sisa-sisa kandungan minyak yang masih terkandung didalam serat limbah zaitun yang ada pada limbah zaitun pada proses sebelumnya, daun, tangkai  dan biji zaitun secara cepat.

Minyak crude pomace non konsumsi diproduksi tidak untuk keperluan penggunaan konsumsi manusia secara langsung akan tetapi untuk keperluan industri tertentu dan sebagai bahan campuran bio solar dan bahan baku minyak pomace sulingan.

  • Minyak Pomace Sulingan (refined pomace oil)

pomace

Pomace Olive Oil dengan berpewarna

Dihasilkan dari hasil penyulingan Crude Pomace yang menggunaan zat kimia dalam produksinya. Terkadang  dicampur dengan ekstraksi minyak zaitun lainnya seperti Virgin olive oil atau Non consumable virgin olive oil, sebelum proses penyulingan,  hingga di hasilkan minyak zaitun sulingan  berkadar asam 0,3%.

Minyak pomace tidak dapat disebut lagi sebagai minyak zaitun karena memiliki karateristik yang telah berbeda , oleh sebab itu jenis minyak ini di beberapa negara pada kemasan dagangnya dilarang mencantumkan kata “POMACE OLIVE OIL”  akan tetapi hanya boleh mencantumkan POMACE OIL (minyak limbah) . Beberapa negara masih membolehkan minyak jenis ini di gunakan untuk memasakdengan telebih dahulu dicampur dengan minyak zaitun yang berkualitas lebih tinggi seperti jenis extra virgin/virgin (lihat dibawah mengenai minyak zaitun+) akan tetapi tetap tidak dianjurkan untuk dikonsumsi langsung karena dikhawatirkan masih tertinggalnya residu bahan pelarut/solven kimia pada pengolahan bahan bakunya yaitu minyak crude pomace.

Penggunaan polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs)  yang bersifat karcinogenik dan mutagenik pada proses produksinya sebaiknya benar-benar dijadikan pertimbangan saat memilih menggunakan produk ini.  Proses produksi dilakukan di suhu yang sangat tinggi dengan tujuan  menguapkan kandungan air dan zat kimia pelarut/solven PAH , akan tetapi residu PAH tersebut hanya dapat diminimalisir saja. Suhu yang tinggi pada proses produksinya  juga mengakibatkan hilangnya hampir keseluruhan dari nutrisi minyak zaitun.

Pada minyak pomace sulingan digunakan zat kimia sebagai bahan pengawet karena bahan pengawet alami berupa antioksidan alami telah lenyap sama sekali akibat proses penyulingan dengan suhu panas yang tinggi. Minyak pomace peredarannya sangat diawasi oleh otoritas negara setempat dikarenakan adanya resiko terlampauinya ambang batas residu bahan kimia yang memiliki resiko tinggi terhadap kesehatan manusia akibat penggunaan bahan kimia pada proses produksinya .

Minyak sulingan pomace memiliki kelebihan yaitu harganya yang sangat ekonomis dan murah dari jenis minyak zaitun sulingan lainnya , serta ketahananannya dalam suhu  panas tinggi menjadikan  minyak pomace sulingan sebagai bahan campuran dengan minyak nabati lainnya untuk digunakan sebagai minyak goreng rendah kolesterol pada restauran-restauran atau cafe.

Sayangnya minyak ini tidak memiliki manfaat kesehatan sama sekali jika dikonsumsi langsung dan cenderung tidak menyehatkan , mengingat resiko adanya kandungan residu kimia proses pengolahan bahan bakunya. Minyak pomace pada beberapa negara juga digunakan sebagai bahan Bio Diesel (baca1  baca2).

 

JENIS MINYAK ZAITUN LAINNYA YANG TIDAK TERDEFINISIKAN OLEH IOOC atau DILUAR DEFINISI IOOC

Selain penggolongan diatas masih banyak jenis minyak zaitun tidak terdefinisikan dalam standar IOOC/IOC yang beredar dipasaran anatra lainnya:

  • Minyak Lampante

Lampante merupakan minyak sampingan dari limbah zaitun yang telah berulang kali diolah oleh industri minyak zaitun yang sama sekali tidak dapat dikonsumsi, kebanyak diproduksi untuk tujuan industri, minyak lampu dan bahan bakar.

  • -Minyak “Zaitun+” (Olive oil plus) disebut juga Blended Olive Oil

blendeklik untuk memperbesar

Adanya permintaan pasar akan harga minyak rendah kolesterol murah yang diperbaiki aroma dan rasanya , membuka peluang adanya pasar minyak campuran. Penggunaan minyak campuran ini banyak dilakukan oleh kalangan industri makanan cepat saji, cafee, hotel dsb dengan tujuan untuk menekan biaya produksi dan meningkatkan daya tahan produk, khususnya dari resiko cepat  timbulnya bau tengik yang secara alami akan timbul dari setiap pengolahan produk yang menggunakan minyak nabati.

Campuran yang digunakan dapat berupa minyak jenis lainnya, seperti minyak biji bunga matahari , minyak kedelai dsb atau dengan menggunakan minyak zaitun dengan kualitas lebih tinggi  seperti jenis extra virgin.

Dipasaran minyak campuran ini dapat ditemukan dengan label misalnya

-PURE OLIVE OIL BLENDED EXTRA VIRGIN  / PURE OLIVE OIL BLENDED,
PURE OLIVE OIL  BLENDED WITH SUN FLOWER OIL/PURE OLIVE  OIL BLENDED
POMACE  OIL BLENDED WITH  EXTRA VIRGIN OLIVE OIL/POMACE  OIL BLENDED . 
POMACE  OIL  BLENDED WITH PURE OLIVE OIL/POMACEE  OIL BLENDED

Penggunaan campuran yang berkualitas lebih tinggi tidak akan menghilangkan fakta bahwa minyak bersangkutan adalah minyak berkualitas rendah yang telah banyak kehilangan sebagian besar atau seluruh nutrisinya , dan tetap adanya resiko residu bahan kimia yang tidak dapat menguap saat proses penyulingan dengan panas dan tekanan tinggi.

  • -Minyak zaitun FINO/ Fino Olive Oil

Minyak zaitun dengan label jenis “FINO” merupakan campuran minyak zaitun extra virgin dan virgin. Diproduksi lebih pada kebutuhan untuk menekan harga dalam pemakaian minyak zaitun extra virgin dalam jumlah besar pada industri, hotel, cafee dsb.
Dicampur sedemikian rupa sehingga khususnya pelanggan kuliner tidak dapat membedakan penggunaan minyak zaitun fino sebafgai ganti minyak zaitun extra virgin, hal ini tentu saja lebih menguntungkan pengusaha industri kuliner.

  • -Minyak zaitun ekstra virgin tidak terfilter/ Unfiltered Extra Virgin Olive Oil

Minyak zaitun ekstra virgin tidak terfilter sengaja di produksi tanpa melalui prose filterasi kandunganairnya, sehingga jenis minyak zaitun ini terlihat sangat keruh dibandingkan minyak zaitun extra virgin pada umumnya yang melalui proses filter kandungan air. Minyak zaitun ekstra virgin tidak terfilter memiliki umur yang relatif sangat pendek karena kandungan air yang tinggi merangsang terpicunya proses oksidasi minyak menjadi lebih cepat. Dari segi rasa agak sedikit berbeda dengan jenis minyak zaitun extra virgin karena ada kandungan air yang tinggi dan dari segi aroma tidak berbeda dari minyak zaitun extra virgin yang melalui proses filterasi.

  • -Minyak zaitun ekstra virgin organik/ Organic Extra Virgin Olive Oil (OEVOO)

Minyak zaitun organik hanya ada pada jenis minyak zaitun ekstra virgin. Minyak zaitun extra virgin organik dihasilkan dari perkebunan zaitun organik yaitu perkebunan zaitun yang dalam pengolahan tanpa penggunaan bahan kimia apapun baik berupa pupuk ataupun pestisida, biasanya perkebunan organik ini terletak didaerah yang terlindung/jauh dari daerah perindustrian untuk menghindari resiko pencemaran.

Produksi minyak zaitun extra virgin organik dilakukan dengan proses yang lebih hati-hati dan sangat ketat, sehingga dihasilkan minyak zaitun extra virgin yang dijamin tidak mengandung unsur bahan kimia yang teruji secara laboratorium . Sertifikasi oleh lembaga independent yang terakreditasi, seperti contohnya “ICEA” atas minyak zaitun ekstra virgin organik merupakan keharusan yang diwajibkan oleh negara-negara penghasil minyak zaitun untuk menghindari pemalsuan atas minyak zaitun berkualitas tinggi ini. Pada umumnya minyak zaitun extra virgin organik memiliki citarasa yang agak berbeda karena kecenderungan lebih terjaganya kandungan nutrisinya dan lebih menyehatkan karena terhindar dari resiko kontaminasi residu zat kimia pada penggunaan pupuk dan pestisida.

Minyak zaitun organik hanya ada pada jenis extra virgin, jadi dapat disimpulkan minyak zaitun organik dipastikan minyak zaitun extra virgin, akan tetapi minyak zaitun extra virgin belum tentu organik, dengan kata lain adanya sertifikasi minyak zaitun organik dari lembaga independen terakreditasi (seperti ICEA) memberikan pengakuan kuat bahwa minyak zaitun organik bersangkutan masuk dalam kategori jenis minyak zaitun extra virgin , karena secara tidak langsung secara otomatis ikut terserfikasi sebagai jenis minyak zaitun extra virgin. Saat ini sertifikasi organik telah dapat di cek keasliannya secara langsung melalui website resmi masing-masing lembaga sertifikasi organik. Pengecekan sertifikasi ini adalah penting karena banyaknya sertifikasi organik palsu.

Kehati-hatian adalah suatu yang penting dalam pembelian minyak zaitun karena banyaknya merek dan kemasan , Anda harus memastikan produk yang Anda beli memiliki infomasi jenis minyak zaitun yang jelas untuk terhindar dari penipuan, untuk memudahkan dalam pemilihan baca tips cara memilih  minyak zaitun di pasaran disini